PAPER
POLARISASI
DAN PRINSIP FERMAT
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Pada Mata Kuliah Optik
Dosen:
Dra. Hj. Heni Rusnayati, M.Si

Disusun oleh:
Ai Yulia Ambarwati (1132070004)
Dea Hasna Fachriyah (1132070013)
Latifah Audria (1132070041)
PRODI
PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN
PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2016
POLARISASI DAN PRINSIP
FERMAT
A. Polarisasi
Polarisasi
adalah suatu peristiwa perubahan arah getar gelombang pada cahaya yang acak
menjadi satu arah getar. Gejala polarisasi hanya
dapat dialami oleh gelombang transversal saja, sedangkan gelombang longitudinal
tidak mengalami gejala polarisasi. Fakta bahwa cahaya dapat mengalami
polarisasi menunjukkan bahwa cahaya merupakan gelombang transversal.
Polarisasi Gelombang
Pada umumnya, gelombang cahaya
mempunyai banyak arah getar. Suatu gelombang yang mempunyai banyak arah
getar disebut gelombang tak terpolarisasi, sedangkan gelombang yang memilki
satu arah getar disebut gelombang terpolarisasi.
Gejala polarisasi dapat digambarkan dengan gelombang
yang terjadi pada tali yang dilewatkan pada celah. Apabila tali digetarkan
searah dengan celah maka gelombang pada tali dapat melewati celah tersebut.
Sebaliknya jika tali digetarkan dengan arah tegak lurus celah maka gelombang
pada tali tidak bisa melewati celah tersebut.
Ada empat fenomena yang menghasilkan
cahaya yang terpolarisasi dari cahaya yang tidak terpolarisasi:
1. Polarisasi
akibat penyerapan
Beberapa jenis
Kristal yang terbentuk secara alami, jika dipotong menjadi bentuk-bentuk yang
tepat akan menyerap dan memancarkan cahaya secara berbeda bergantung pada
polarisasi cahaya tersebut. Kristal-kristal tersebut dapat digunakan
menghasilkan cahaya yang terpolarisasi secara linear. Pada tahun 1938, E. H.
Land menemukan film polarisasi komersial sederhana yang di sebut Polaroid.
Polaroid
adalah suatu bahan yang dapat menyerap arah bidang getar gelombang cahaya dan
hanya melewatkan salah satu bidang getar. Seberkas sinar yang telah melewati
polaroid hanya akan memiliki satu bidang getar saja sehingga sinar yang telah
melewati polaroid adalah sinar yang terpolarisasi.
Peristiwa
polarisasi ini disebut polarisasi karena absorbsi selektif. Polaroid banyak
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain untuk pelindung pada
kacamata dari sinar matahari (kacamata sun glasses) dan polaroid untuk kamera.
2. Polarisasi
melalui hamburan
Hamburan adalah peristiwa penyerapan dan pemantulan kembali cahaya oleh suatu sistem partikel. Jika cahaya tidak terpolarisasi datang pada suatu gas, maka cahaya yang dihamburkan ke samping dapat terpolarisasi sebagian atau seluruhnya. Arah polarisasi sedemikian rupa sehingga tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh garis sinar datang dengan garis penglihatan. Sebagai contoh, mengapa langit tampak biru? Peristiwa ini disebabkan oleh hamburan cahaya. berdasarkan analisis tentang proses hamburan cahaya dapat disimpulkan bahwa untuk intensitas cahaya datang tertentu, intensitas cahaya yang dihamburkan bertambah dengan bertambahnya frekuensi. Karena cahaya biru memiliki frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi merah, maka cahaya biru dihamburkan lebih banyak daripada cahaya merah. sebagai hasilnya, langit tampak berwarna biru.
3. Polarisasi
melalui pemantulan
Saat cahaya yang tidak
terpolarisasi dipantulkan dari sebuah bidang batas permukaan datar diantara dua
medium transparan, seperti udara dan kaca atau udara dan air, cahaya yang
dipantulkan terpolarisasi sebagian. Tingkat polarisasi bergantung pada sudut
datang dan indeks bias kedua medium tersebut. saat sudut datang sedemikian rupa
sehingga sinar - sinar yang dipantulkan dan dibiaskan saling tegak lurus, maka
cahaya yang dipantulkan terpolarisasi secara keseluruhan. Hasil tersebut ditemukan
oleh Sir David Brewster pada tahun 1812.
Polarisasi melalui
pemantulan
Hukum Brewster:

4. Polarisasi
melalui pembiasan ganda
Polarisasi karena bias kembar dapat terjadi apabila cahaya
melewati suatu bahan yang mempunyai indeks bias ganda atau lebih dari satu,
misalnya pada kristal kalsit. Cahaya yang lurus disebut cahaya biasa, yang
memenuhi hukum Snellius dan cahaya ini tidak terpolarisasi. Sedangkan cahaya
yang dibelokkan disebut cahaya istimewa karena tidak memenuhi hukum Snellius
dan cahaya ini adalah cahaya yang terpolarisasi.
![]() |
B. Prinsip
Fermat
Perambatan
cahaya juga dapat dijelaskan melalui prinsip yang dinyatakan oleh Pierre de
Fermat pada abad ke-17 yang menyatakan bahwa lintasan yang dilalui oleh cahaya
untuk merembat dari satu titik ke titik lain adalah sedemikian rupa sehingga
waktu perjalanannya minimum. Namun pernyataan ini tidak mencakup semua kasus.
Waktu yang dilalui kadang maksimum. Prinsip Fermat yang lebih lengkap adalah
lintasan yang dilalui cahaya untuk merambat dari satu titik ke titik lain
adalah sedemikian rupa sehingga waktu perjalanan itu tidak berubah sehubungan
dengan variasi-variasi dalam lintasan tersebut. Ciri-ciri penting dari sebuah
lintasan yang tidak berubah adalah bahwa waktu yang diperlukan sepanjang
lintasan-lintasan terdekat akan kira-kira sama seperti sepanjang lintasan yang
sebenarnya.
Berikut
ini pemakaian prinsip Fermat untuk menurunkan hukum-hukum pemantulan dan
pembiasan.
Pemantulan
Perhatikan gambar dibawah
ini!
![]() |
Perhatikan Δ AFO
diperoleh bahwa:
Perhatikan Δ BGO
diperoleh bahwa:
Panjang lintasan
total perjalanan sinar cahaya dari A ke B adalah
Menurut
Prinsip Fermat letak titik O harus sedemikian rupa sehingga waktu tempuh cahaya
yang melewati titik ini dari A ke B adalah minimum. Dengan kata lain lintasan
yang ditempuh oleh cahaya dari A ke B haruslah minimum sehingga berdasarkan
syarat dalam metode kalkulus diharuskan
. Maka kita dapat menuliskanya dalam
kasus ini menjadi:

Dengan melihat
gambar kita dapat menuliskan bahwa persamaan diatas adalah sama dengan
Atau
Ini adalah hukum
pemantulan cahaya.
Pembiasan
![]() |
Telah
kita ketahui bahwa kecepatan cahaya berubah jika melalui medium yang berbeda.
Kita juga telah mengetahui bahwa perbandingan kecepatan pada dua medium
tersebut adalah indeks bias relatif medium tersebut terhadap medium lainya.
Dari
gambar kita dapat menuliskan waktu yang ditempuh oleh sinar cahaya dari titik A
menuju titik B yaitu
Dengan menggunakan
hubungan indeks bias
Sehingga

Dimana l adalah
lintasan yang ditempuh oleh sinar dari A ke B. Maka
𝑙=𝑛𝑆+𝑛𝑆′′
Perhatikan Δ AFO
diperoleh bahwa
Perhatikan Δ BGO
diperoleh bahwa
Maka

Menurut
Prinsip Fermat letak titik O harus sedemikian rupa sehingga waktu tempuh cahaya
yang melewati titik ini dari A ke B adalah minimum. Dengan kata lain lintasan
yang ditempuh oleh cahaya dari A ke B haruslah minimum sehingga berdasarkan
syarat dalam metode kalkulus diharuskan
. Maka kita dapat menuliskanya dalam
kasus ini menjadi:

Dengan melihat gambar
kita dapat menuliskan bahwa persamaan diatas adalah sama dengan
Ini adalah hukum
Snellius untuk pembiasan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar